Kontekstualisasi hadis-hadis dalam kitab parukunan melayu karya syekh arsyad banjar
-
-
Published: January 27, 2026
-
Page: 1-16
Abstract
Steenbrink mengatakan bahwa dalam catatan sejarah banjarmasin pernah menjadi pusat studi Islam yang banyak mengahasilkan karya-karya keagamaan dan sastra salah satunya kitab Parukunan, bagi masyrakat banjar dan masyarakat melayu, kitab Parukunan sudah sangat dikenal. Dalam konteks sejarah, kitab Parukunan tidak hanya dipelajari dan menjadi referensi utama dasar-dasar Islam. Parukunan ini membahasa tentang peraktek keagamaan yang mencakup rukun Islam(fiqh), rukun Iman (tauhid), dan rukun Ihsan (tasauf), namun untuk mendukung penjelasannya syekh arsyad banjar memakai dalil al-qur’an dan hadis nabi, setelah di telusuri ternyata di dalam kitab Parukunan terdapat lima hadis dengan klasifikasi shahih, hasan, mauquf, dan dhaif, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan memiliki dua sumber data yaitu data primer dan data skunder, adapun data primernya adalah kitab Parukunan sedangkan data skundernya berupa buku, artikel, dan referensi lainya yang berkaitan dengan penelitian, adapun hasil dari penelitian ini adalah bahwa syekh arsyad mencantumkan hadis dalam kitab Parukunan ini untuk mendukung penjelasannya namun syekh arsyad hanya mencantumkan arti dari hadis tersebut dengan aksara melayu agar mudah di baca dan di pahami oleh masyarakat melayu, dan syekh arsyad juga tidak mencantumkan sanad dalam hadis tersebut, setelah di telusuri ternyata hadis tersebut terdapat di berbagai kitab kutub as-Sittah dengan kalsifikasi shahih, hasan, mauquf dan dhaif.
- Hadis; Manuskrif; Parukunan dan Melayu Banjar;